POST DETAIL

Kamis, 10 November 2016 - 10:59

Mengenang Cerita Dr Sutomo

MataWanita.com - PASTI Anda pernah tahu soal pahlawan yang satu ini. Sebut saja dr Sutomo. Semasa hidupnya ia sangat aktif dalam memberikan pembelajaran bagi masyarakat untuk memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, serta kebudayaan.

Dr Sutomo lahir di Jawa Timur 30 Juli 1888 dan mengemban pendidikan sekolah dokter di STOVIA. Ia membawa misi mulia untuk membuat perubahan masyarakat Indonesia untuk lebih maju dan bisa mengedepankan kesejahteraan mereka.

Sebagai seorang yang gigih dan tak goyah, Sutomo tetap melanjutkan pendidikannya di STOVIA Jakarta, meski ditentang oleh kakeknya. Sang kakek mengharapkan, cucunya untuk sekolah pangreh praja, yakni sekolah bagi pemangku negeri. Namun, atas dukungan penuh sang ayah, Raden Suwaji, ia bisa melanjutkan sekolah di STOVIA

Setelah berhasil menamatkan pendidikan di STOVIA, dr Sutomo kembali ke tanah air dan memulai kariernya sebagai dokter di berbagai wilayah. Memulainya dari Semarang, Tuban, Lubuk Pakan (Sumatera bagian Timur), juga ke Malang. Rekam jejaknya membuat ia dikenang hingga kini, sebagai seorang pahlawan.

Ia tidak mengharapkan balasan apapun dari masyarakat. Tak ada niat untuk mengumpulkan harta, dr Sutomo memilih untuk meringankan beban rakyat. Terutama masyarakat yang ia sambangi dari daerah ke daerah.

Kelelahan dr Sutomo seakan terbayar meski ia berpindah-pindah lokasi untuk mengemban tugas mulianya itu. Sebuah pengalaman yang luar biasa baginya memberantas epidemi pes yang melanda masyarakat. Banyak masyarakat yang "jatuh cinta" dan mengagumi sosok dr Sutomo.

Bagaimana tidak, pendiri Budi Utomo ini selalu menuai pengalaman luar biasa. Tak bisa dipungkiri, kedekatannya terhadap masyarakat dan rakyat kecil bisa terjalin dengan nyata. Kerap dr Sutomo memberikan donasi dan memberikan bantuan secara langsung kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Bahkan, pasien dibebaskan dari tarif pembayaran.

Atas prestasi dan pengalaman yang tak terbayar ini, pemerintah memberinya peluang untuk menguatkan dan menambah pengetahuan dalam bidang kedokteran di STOVIA, Belanda. Di tahun 1919, Sutomo lulus dan kembali lagi ke tanah air.

Tak hanya dalam bidang kesehatan, dr Sutomo aktif pula dalam bidang kewartawanan maupun politik. Pada usia 50 tahun, ia meninggal di Surabaya, tanah kelahirannya. Kini, jasa dr Sutomo dikenang dan kebaikannya mampu menginspirasi masyarakat maupun para tenaga medis. [end]

MOST POPULAR